Oleh: Cahaya Buah Hati (Mahasiswi Sastra Melayu FIB Unilak)

Sebuah infokus menyala di dinding batu ruangan seminar Fakultas Ilmu Budaya (18/4). Barisan kursi-kursi tersusun rapi, ada beberapa yang sudah terisi dan sebagian lain menunggu berharap ada yang menempati, sama seperti yang terjadi di berbagai diskusi/bedah buku sastra di Pekanbaru, tidak terlalu banyak yang berminat, barangkali pemahaman terhadap karya sastra yang masih kurang. Ruangan yang didesain sangat sederhana itu menjadi tempat bedah buku “ Ziarah Angin”, sajak pilihan Riau Pos 2009, yang ditaja oleh FIB Unilak.

“Kami sengaja mengadakan acara ini dengan desain seadanya, yang penting acara ini ada dan mampu menjadi wadah untuk menambah wawasan mahasiswa/I terhadap karya sastra” ujar Dekan Fakultas Ilmu Budaya Dr. Junaidi, S.S,. M. Hum.

Ziarah Angin adalah buku kumpulan sajak pilihan Riau Pos 2009. Sajak-sajak yang dikumpulkan adalah karya penulis Riau dan luar Riau. Sebagai salah satu media cetak lokal terbesar, Riau Pos konsisten menerbitkan karya-karya sastra setiap tahunnya. Beberapa terbitan yang sudah ada berisi sajak, cerpen maupun Essai sebagai bentuk penghargaan yang besar bagi para penulis. Tidak semua karya dapat diterbitkan. Karya yang masuk terlebih dahulu diseleksi oleh redaktur dari segi tema, sudut pandang maupun pemilihan diksi.

Ketika membaca maupun mendengar judul buku “Ziarah Angin” ada satu pertanyaan yang mengundang untuk dijawab, apakah itu Ziarah Angin? Bukankah Ziarah bila disandingkan dengan Angin adalah metapora yang berbeda tapi memiliki satu tujuan yang sama?

Kata Ziarah adalah kata kerja yaitu suatu aktivitas mendatangi tempat dimana kedamaian bersemayam dan memiliki rahasia yang tidak dapat diungkapkan. Sedangkan angin adalah fenomena alam yang bersifat menyejukkan dan memberikan kedamaian pada waktu-waktu tertentu. Ketika dua kata tersebut disandingkan dapat ditemukan sebuah dunia yang penuh misteri dari cakrawala penulis yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, namun memiliki tujuan yang sama yaitu sebuah interpretasi pertualangan yang sunyi di ranah metapora yang bermuara pada makna hidup.

Dalam buku ini, karya yang dimuat tidak hanya diisi oleh penulis lama, penulis-penulis baru pun bermunculan. Hal ini mengingatkakan pada kata-kata bijak patah satu tumbuh seribu. Marhalim Zaini, S.Sn sebagai pembicara dalam acara bedah buku Ziarah Angin, memilah 4 angkatan penulis yang dimuat karyanya, yaitu:

  1. Angkatan baru : yang muncul pada dekade terkhir seperti Alvi Puspita, Cahaya Buah Hati, Susi Susanti, Riki Utomi dan Zurnila Emhar Ch, yang masih harus belajar dan banyak menggali dan mengeksplorasi tema dan menjauhkan segala kerumpangan diksi.

  2. Angkatan tua : yang tua dari umur dan muda dalam karya seperti Chaidir, Eddy Akhmad RM, Yose Rizal Zen yang cenderung mempunyai keegoisan tersendiri dalam karyanya dan kuat menyuarakan kehendak puisinya sendiri.

  3. Angkatan luar Riau: yang bermukim di luar Riau seperti Hasan Aspahani, Esha Tegar Putra, Mutia Sukma, Margaretha Chrisna Sari, yang menyuarakan warnanya sendiri dari keberagaman metapora yang dapat disandingkan.

  4. Angkatan Muda: yaitu penulis angkatan 2000-an seperti Jefri Al-Malay, Hang Kafrawi, M.Badri, Musa Ismail, Sobirin Zaini, yang selalu konsisten dengan style puisi-puisinya yang terkadang biasa-biasa namun terkadang pula mencengangkan.

Semua sudah tertuliskan dalam sebuah buku “Ziarah Angin” Kumpulan Sajak Riau Pos 2009, segala kreatifitas anak negeri yang patut diapresiasikan, karena sebuah karya memiliki nasibnya masing-masing. Karya-karya yang ada tidak cukup lahir dari rahim sang penulis dan dibiarkan merana. Perlu apresiasi dari para pembaca dan penikmat sastra agar Riau makin ramai dengan para pujangganya.

Sebuah infokus menyala di dinding batu ruangan seminar Fakultas Ilmu Budaya (18/4). Barisan kursi-kursi tersusun rapi, ada beberapa yang sudah terisi dan sebagian lain menunggu berharap ada yang menempati, sama seperti yang terjadi di berbagai diskusi/bedah buku sastra di Pekanbaru, tidak terlalu banyak yang berminat, barangkali pemahaman terhadap karya sastra yang masih kurang. Ruangan yang didesain sangat sederhana itu menjadi tempat bedah buku “ Ziarah Angin”, sajak pilihan Riau Pos 2009, yang ditaja oleh FIB Unilak.

“Kami sengaja mengadakan acara ini dengan desain seadanya, yang penting acara ini ada dan mampu menjadi wadah untuk menambah wawasan mahasiswa/I terhadap karya sastra” ujar Dekan Fakultas Ilmu Budaya Dr. Junaidi, S.S,. M. Hum.

Ziarah Angin adalah buku kumpulan sajak pilihan Riau Pos 2009. Sajak-sajak yang dikumpulkan adalah karya penulis Riau dan luar Riau. Sebagai salah satu media cetak lokal terbesar, Riau Pos konsisten menerbitkan karya-karya sastra setiap tahunnya. Beberapa terbitan yang sudah ada berisi sajak, cerpen maupun Essai sebagai bentuk penghargaan yang besar bagi para penulis. Tidak semua karya dapat diterbitkan. Karya yang masuk terlebih dahulu diseleksi oleh redaktur dari segi tema, sudut pandang maupun pemilihan diksi.

Ketika membaca maupun mendengar judul buku “Ziarah Angin” ada satu pertanyaan yang mengundang untuk dijawab, apakah itu Ziarah Angin? Bukankah Ziarah bila disandingkan dengan Angin adalah metapora yang berbeda tapi memiliki satu tujuan yang sama?

Kata Ziarah adalah kata kerja yaitu suatu aktivitas mendatangi tempat dimana kedamaian bersemayam dan memiliki rahasia yang tidak dapat diungkapkan. Sedangkan angin adalah fenomena alam yang bersifat menyejukkan dan memberikan kedamaian pada waktu-waktu tertentu. Ketika dua kata tersebut disandingkan dapat ditemukan sebuah dunia yang penuh misteri dari cakrawala penulis yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, namun memiliki tujuan yang sama yaitu sebuah interpretasi pertualangan yang sunyi di ranah metapora yang bermuara pada makna hidup.

Dalam buku ini, karya yang dimuat tidak hanya diisi oleh penulis lama, penulis-penulis baru pun bermunculan. Hal ini mengingatkakan pada kata-kata bijak patah satu tumbuh seribu. Marhalim Zaini, S.Sn sebagai pembicara dalam acara bedah buku Ziarah Angin, memilah 4 angkatan penulis yang dimuat karyanya, yaitu:

1. Angkatan baru : yang muncul pada dekade terkhir seperti Alvi Puspita, Cahaya Buah Hati, Susi Susanti, Riki Utomi dan Zurnila Emhar Ch, yang masih harus belajar dan banyak menggali dan mengeksplorasi tema dan menjauhkan segala kerumpangan diksi.

2. Angkatan tua : yang tua dari umur dan muda dalam karya seperti Chaidir, Eddy Akhmad RM, Yose Rizal Zen yang cenderung mempunyai keegoisan tersendiri dalam karyanya dan kuat menyuarakan kehendak puisinya sendiri.

      1. Angkatan luar Riau: yang bermukim di luar Riau seperti Hasan Aspahani, Esha Tegar Putra, Mutia Sukma, Margaretha Chrisna Sari, yang menyuarakan warnanya sendiri dari keberagaman metapora yang dapat disandingkan.

      2. 4. Angkatan Muda: yaitu penulis angkatan 2000-an seperti Jefri Al-Malay, Hang Kafrawi, M.Badri, Musa Ismail, Sobirin Zaini, yang selalu konsisten dengan style puisi-puisinya yang terkadang biasa-biasa namun terkadang pula mencengangkan.

Semua sudah tertuliskan dalam sebuah buku “Ziarah Angin” Kumpulan Sajak Riau Pos 2009, segala kreatifitas anak negeri yang patut diapresiasikan, karena sebuah karya memiliki nasibnya masing-masing. Karya-karya yang ada tidak cukup lahir dari rahim sang penulis dan dibiarkan merana. Perlu apresiasi dari para pembaca dan penikmat sastra agar Riau makin ramai dengan para pujangganya.